LAYARASPIRASI.COM-Kebijakan work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tebo yang telah diterapkan beberapa waktu yang lalu dinilai berjalan efektif.
Sekretaris Daerah (Sekda) Tebo, Sindi, mengatakan penerapan sistem kerja fleksibel tersebut sejauh ini tidak mengganggu pelayanan pemerintahan maupun aktivitas administrasi di organisasi perangkat daerah (OPD).
“WFH sistem bekerja pegawai ASN dari rumah yang diterapkan pemerintah sudah berjalan sekitar sebulan setengah. Menurut pantauan kami sampai hari ini cukup efektif,” ujar Sindi Senin (25/5/2026).
Ia menjelaskan, kebijakan WFH tidak diterapkan kepada seluruh ASN. Hanya sekitar 30 persen pegawai yang bekerja dari rumah setiap hari Jumat secara bergantian.
Sementara pegawai lainnya tetap menjalankan tugas di kantor guna memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal.
Menurutnya, masing-masing dinas dan instansi telah mengatur pembagian jadwal pegawai yang menjalani WFH secara bergilir.
Mekanisme itu dilakukan agar roda pemerintahan tetap berjalan normal tanpa mengurangi kualitas pelayanan publik.
“Dinas dan instansi menugaskan pegawai secara bergantian setiap hari Jumat. Sampai hari ini oleh Pemkab Tebo masih dianggap efektif,” katanya.
Selain mendukung efisiensi kerja, kebijakan WFH juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menekan penggunaan anggaran operasional perkantoran. Penghematan tersebut mencakup penggunaan listrik, air, serta biaya operasional lainnya.
Sindi menambahkan, pelaksanaan WFH nantinya akan dievaluasi oleh Kementerian Dalam Negeri.
Evaluasi dilakukan berdasarkan parameter efisiensi penggunaan listrik, air, dan komponen operasional lainnya sebelum dan sesudah penerapan WFH.
“Kemendagri sudah mengeluarkan surat terkait pelaksanaan sebelum dan sesudah WFH sebagai bahan evaluasi. Nanti akan terlihat hasilnya dari sisi efisiensi,” jelasnya.
Pemkab Tebo, lanjut Sindi, akan tetap mengikuti regulasi dan arahan pemerintah pusat terkait penerapan sistem kerja ASN tersebut.
Jika hasil evaluasi menunjukkan dampak positif, bukan tidak mungkin pola kerja fleksibel akan terus diterapkan dengan sejumlah penyesuaian. (*)








